Pandangan Generasi Millennials Mengenai Fenomena “Kidz Zaman Now”
Kids
zaman Now adalah sebuah istilah yang belakangan ini ramai dipakai di dunia
maya. Kalimat ini merupakan sebuah istilah dengan makna yang luas dan bisa
berbeda makna pada variasi dan tujuan penggunaannya. Jejaring sosial twitter dan facebook adalah medium utama penyebaran istilah ini. Tapi apakah
arti Kids Jaman Now ini sebenarnya?
( source image : prfmnews.com )
Seperti yang telah di tulis oleh Evan (2017) Istilah ini digunakan untuk mengomentari atau lebih tepatnya mencibir perilaku anak zaman sekarang (plural: anak-anak jaman sekarang) yang dianggap aneh, nyeleneh, kurang pantas ataupun absurd. Jadi dapat dikatakan bahwa kidz zaman now adalah anak anak yang memiliki sikap kekinian yang ingin menonjolkan dirinya terhadap hal hal yang sedang menjadi populer di kalangan masyarakat akan tetapi lebih kepada perilaku yang di anggap masyarakat/generasi millennials menyimpang maupun negatif.
Menurut Salim Satriwan dalam
websitenya GeoTime, kids
zaman now adalah mereka yang disebut Generasi Z, lahir rentang tahun 1995-2010.
Uraian tentang sosiologi generasi ini, bisa membaca pemikiran Karl Mannheim
(1893-1947) yaitu dalam esainya berjudul “The Problem of Generations”
(1923). Dia mengatakan bahwa sebuah generasi merupakan suatu kelompok yang
terdiri dari individu, yang memiliki kesamaan dalam rentang usia, kemudian
berpengalaman mengikuti peristiwa sejarah penting dalam suatu kurun waktu yang
sama pula. Berbeda hal kemudian yang dikenal dengan istilah Generasi Y
atau lazim dikenal dengan Generasi Milenial. Generasi ini lahir
sekitar 1981-1994. Istilah Generasi Milenial ini mulai berkembang di Amerika
Serikat setelah terbitnya buku “Millennials Rising: The Next Great
Generation” (2000), ditulis Neil Howe dan Bill Strauss.
Sedangkan generasi millennials yang diungkapkan oleh William
Strauss dan Neil Howe dalam teori generasi Strauss-Howe adalah generasi yang
dibesarkan dalam kondisi baik walaupun mereka hadir pada masa perang budaya
dimana Indonesia sendiri kaya akan budaya, jumlah kebudayaan yang baik dan bagus tidak terhitung, namun begitu pula budaya yang kurang baik. Pada
realitasnya saat ini anak anak yang di juluki “kidz jaman now” memang menjadi perbincangan di banyak bidang baik
pada media online, media cetak maupun secara frontal masyarakat juga sering
memperbincangkannya. Sehingga fenomena ini dapat menyita banyak perhatian yang
dapat di ulas secara nyata dalam penerapannya sehari hari karena hal ini terjadi
secara langsung di kehidupan kita.
Pada
dasarnya anak anak yang sekarang sedang dijuluki kidz zaman now ini
terbentuk dari prespektif masyarakat dan netizen yang beranggapan bahwa mereka
saling berlomba untuk memperlihatkan eksistensi / mengaktualisasikan dirinya
pada orang lain sehingga orang lain akan mengakui dan tau bahwa mereka ada, Melalui
media sosial maupun secara langsung
di zona kehidupan bermasyarakat.. Anak jaman sekarang juga sudah berusaha untuk
berkomunikasi dari berbagai kecanggihan teknologi yang ada. Orang berkomunikasi untuk menunjukan
dirinya eksis atau ada, inilah yang disebut dengan aktualisasi diri atau
eksistensi diri (Mulyana, 2007 : 14).
Selain
itu latar belakang terbentuknya fenomena kidz
zaman now juga dipengaruhi dari subliminal
messages
yang berdampak pada generasi saat ini maupun yang akan datang. Dijelaskan oleh
seorang penulis pada websitenya Behind
your Eyes (Lawliet, 2014) Sebenarnya
masyarakat umum mungkin belum tahu apa itu Subliminal messages wajar saja
mengingat istilah ini sangat jarang digunakan dalam obrolan sehari-hari.
Subliminal Messages adalah sebuah pesan tersembunyi yang disisipkan pada objek
objek atau media-media tertentu ( biasanya iklan ), pesan ini bertujuan
untuk mempengaruhi pikiran bawah sadar audience.
Apabila
kita lihat dari pengertian tersebut, dapat di perhatikan bahwa hal seperti ini
memiliki sebuah efek yang dapat mempengaruhi audience apalagi mengarah kepada
anak anak yang belum cukup umur yang lebih mudah terpengaruh pada hal negatif
yang dapat berpotensi untuk merusak moral audience
yang melihatnya. Ketika para audience
yang mengkonsumsi adalah anak anak maka akan ditakutkan untuk menyalah artikan
sebuah pesan yang ada di media yang akan memicu adanya tindakan soaial yang
menyimpang atau tidak sempuranya sosialisasi terhadap media yang dikonsumsi
oleh anak. Sehinga seorang anak dapat melakukan kegiatan menyimpang tidak
sesuai dengan aturan yang berlaku di masyarakat. Selain itu banyak juga faktor
yang melatarbelakangi munculnya fenomena kidz zaman now yang sedang hangat di
perbincangkan oleh netizen yang
mayoritas berasal dari generasi millennialso
Millennials menganggap Kids Zaman Now
sebagai generasi norak. Dari kecenderungan komentar netizen menggunakan
istilah ini, terdapat subliminal message
yang menunjukkan ketidaksukaan Millennials pada generasi suksesornya. Meski begitu, perilaku
anak jaman sekarang, yang menjadi objek nyinyiran tersebut memang cenderung
kelewatan dan norak. Anak-anak jaman sekarang digambarkan sebagai generasi yang
terlalu cepat dewasa, terlalu cepat berdandan, terlalu cepat bergaul dan
pacaran. Padahal kakak-kakaknya yang dari generasi Millennials belum tentu
punya pacar dan mungkin masih kesulitan untuk dapat PDKT melalui pesan atau
sekedar untuk menarik perhatian wanita atau lawan
jenisnya. (Evan, 2017)
Kidz zaman now dapat
dikatakan norak karena selalu menggangap heboh suatu peristiwa yang sedang
populer terjadi dan biasannya hal tersebut dilebih lebihkan sehingga
menimbulkan kesan lebay dan tak
biasa. Misal, dapat kita ambil contoh viralnya beberapa video challenges yang dibuat oleh remaja
bahkan anak anak saat ini di sosial media
baik itu facebok, twitter dan yang
paling populer terdapat dalam video di instagram.
Mereka berlomba lomba menjadi yang terbaik tanpa melihat kode etik dalam menggunakan
sosial media sehingga muncul beberapa video dari kidz zaman now yang kurang nyaman di saksikan oleh pengguna sosmed karena tidak sopan ataupun
mengindikasikan adanya kekerasan yang notabe belum pantas dilakukan oleh anak
anak tersebut. Maka dari hal tersebut kidz
zaman now di pandang terlalu berlebihan dalam meluapkan ekspresinya di
ranah yang belum pantas mereka masuki.
Pada dasarnya, para generasi millennials ini melihat kidz zaman now dari sudut pandang atau prespektif yang bersifat
subjektif tetapi memiliki kecenderungan yang sama. Generasi yang dikritik oleh
millennials ini dianggap terlalu bersikap dewasa tetapi pada kenyataannya
mereka masih pada tahap anak anak dan seharusnya mereka juga berprilaku sesuai
dengan tahapan sosialisasi yang dilihat dari umur dan persiapan mentalnya.
Dapat dimulai dari tahap persiapan (Preparation
Stage) pemahaman tentang diri sendiri. Pada tahap ini anak mulai melakukan
tindakan meniru meskipun belum sempurna (Rachamawati, dkk., 2016:12)
Apabila di tinjau kembali pada permasalahan tersebut, anak-anak
Generasi Z (oleh Bill Gates disebut i-Generation)
saat ini memiliki rentang usia antara 7-22 tahun. Secara demografis, merekalah
yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah mulai dari SD, SMP, SMA sampai
pada perguruan tinggi. Seharusnya bisa lebih bersikap dewasa dalam melakukan
suatu tindakan agar pandangan masyarakat lain khususnya generasi millennials
ini tidak geram atau ilfiel. Banyak konten
di dalam film maupun sinetron di pertelevisian indonesia yang ditiru oleh anak
anak sebagai ungkapan ekspresi dan penyaluran bakat tetapi dengan cara yang
salah sehingga menimbulkan permasalahan sosial karena sosialisasi yang tidak
sempurna. Misalnya anak anak yang bertengkar meniru adegan yang ada di sinetron
mulai dari bersuara dengan volume yang keras bahkan kasar dan terkadang di
bumbui dengan perilaku menampar lawan bicaranya sehingga apa yang diperagakan
terkesan aneh, dan kurang sopan bahkan mengindikasi adanya kekerasan fisik yang
terjadi.
Generasi
millennials kerap membandingkan perilaku yang dilakukan oleh generasi
sesudahnya ini sebagai sesuatu yang sangat berbeda dari sebelumnya. Generasi Y
melihat bahwa generasi Z mudah sekali dipengaruhi oleh media yang dikonsumsinya
dan melakukan tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa tetapi sudah
dilakukannya, contohnya seperti merokok di tempat umum dengan percaya diri yang
tinggi selain rokok kadang mereka juga telah merambat ke vape atau rokok
elektrik yang biasa dikonsumsi oleh orang dewasa sebagai pegganti rokok biasa walaupun
sama sama memiliki efek yang berbahaya bagi kesehatan tubuh, dan bermain game
online yang sudah dengan jelas tertera ada batasan umur minimal kepada user pengguna
tetapi banyak yang tidak memperdulikan hal tersebut karena di dalam game online
saat ini banyak mengandung unsur kekerasan dan sensualitas.
Sekarang
mari kita lihat, bagaimana wajah Generasi Z lias “kids zaman now”
itu dalam perspektif sosial dan budaya. Karakter sosial mereka yang dibesarkan
oleh media internet, aktif berkomunikasi melalui perangkat telepon pintar (smart
phone), ketergantungan sangat tinggi kepada internet, gadget, multitasking,
menjunjung tinggi privasi dan suka tantangan. Walaupun kadang disindir dengan
sebutan generasi micin, tapi “kids zaman now” punya
percaya diri tinggi.
Lebih
mencengangkan lagi, mereka para “kids zaman now” ini
bercita-cita memiliki “profesi” yang anti-mainstream; mulai menjadi youtuber,
vloger, bloger, gamer, selebgram, influencer,
komikus bahkan menjadi hacker, barista dan penambang bitcoin.
Bagi para generasi millennials deretan nama dan istilah pekerjaan di atas
terdengar asing, bahkan “aneh”. Sudahlah istilahnya terasa “keminggris”
alias keinggris-inggrisan, susah pada mengucapkannya. Akan tetapi di sini
memang kaum muda mudi dari generasi z ingin selalu menjadi yang ter-update baik mulai dari sesuatu yang viral hingga sesuatu
yang sudah menjadi hal yang biasa.
Terdapat
salah satu orang dari generasi millennials yang menyindir kidz zaman now ini melalui karyanya yaitu dari lagu yang berjudul “kidz Zaman Now” yang dinyanyikan oleh Eco
Show. Lagu ini apabila diperhatikan
sangat menyindir kelakuan dari genersi z mulai dari sikap mereka, tutur kata
dan lain sebagainya. Apabila kita lihat dengan seksama tentang lirik yang ada
di lagu tersebut maka kita akan dapat memiliki gambaran yang cukup jelas tenang
bagaimana kondisi kidz zaman now
menjalani hidp di lingkungan sosialnnya.
Lagu
ini adalah salah satu lagu terbaru yang dibawakan oleh "Ecko Show",
lagu ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 10 Oktober 2017 melalui
channel miliknya di Youtube. Dan saat ini vidionya tersebut sudah ditonton
lebih dari 15 ribu kali, isi dari lagu tersebut bercerita tentang keresahan
yang terjadi terhadap moral anak anak jaman sekarang yang jauh dari etika dan
tata prilaku yang baik, dan kebanyakan anak anak sekolah jaman sekarang
lebih mementingkan pergaulan, dibanding dengan tujuan sekolah mereka sendiri
(Ayya, 2017)
Semakin canggih dunia semua
tersedia
Anak kecil lebih suka buka sosial media
Bukan matematika atau rumus kimia
Tapi artis korea mereka lebih histeria
Anak anak usia belia
Udah ngerti soal lagu cinta
Tak menghormati kaum lansia
Apa kabar Indonesia?
Anak kecil lebih suka buka sosial media
Bukan matematika atau rumus kimia
Tapi artis korea mereka lebih histeria
Anak anak usia belia
Udah ngerti soal lagu cinta
Tak menghormati kaum lansia
Apa kabar Indonesia?
Itu merupakan sedikit potongan yang
di ambil dari lirik lagu tersebut. Di sini anak belia atau anak kecil sudah
seperti terkena virus gadged yang
akan selalu terhubung dengan internet sehingga anak zaman sekarang kecanduan
dan memiliki ketergantungan pada sesuatu yang berada di internet tanpa
menyaring baik atau buruknya konten yang ada pada internet tersebut. Apalagi
ketika kita berbicara tentang manusia sebagai mahluk sosial yang memiliki sifat
tidak akan mudah puas akan segala suatu hal, maka seorang manusia akan selalu
mengembangkan inovasi inovasi baru agar mencapai kesempurnaannya hasrat,
sehingga pada era globalisasi ini kita dapat dengan mudahnya mengakses segala
macam apa yang kita butuhkan dari internet yang ruang lingkupnya sangat luas
sehingga apa yang kita cari mungkin akan selalu ada dan tersedia baik itu
informasi, barang kebutuhan maupun lainnya. Karena saat ini semua dapat
dikatakan serba mudah, pada realitasnya memang anak anak sudah terbiasa dengan gadged yang berisi sosial media yang
dapat di akses ke seluruh jaringan dunia agar terhubung dengan khalayak global
dampak negatifnya ialah konten yang tidak tersaring dengan baik dapat di
konsumsi oleh anak kecil yang dapatmenimbulkan kebobrokan moral.
Selain melalui lagu, para netizen
dari generasi millennials ini juga
menyindir adanya fenomena kidz zaman now melalui meme yang beredar di internet
atau media online. Istilah meme berasal dari bahasa Yunani “mimema”
yang berarti sesuatu yang menyerupai/menirukan, dan terdengar serupa dengan gen
(gene). Dawkins memakai istilah ini untuk mendefinisikan lahirnya budaya dengan
anggapan terjadinya merupakan bentukan dari banyak replikator (penyerupaan).
Karen Schubert dalam bukunya Bazar Goes Bizzare yang terbit 2003
seperti ditutip USA Today, Juni 2007, menguraikan meme sebagai
sesuatu yang menjadi terkenal melalui Internet, seperti gambar, video,
atau bahkan orang.
Tidak mengherankan bila fenomena
ini (kidz zaman now) memicu lahirnya
berbagai meme yang menyindir kelakuaan-kelakuan absurd kids jaman now
ini !. disini saya akan memberikan beberapa contoh meme yang menyindir perkara
tingkah laku anak masa kini yang kurang memperhatikan sopan santun di dalam
kehidupan bermasyarakat.
Gambar meme yang ada di bawah ini saya
mengambilnya melalui situs web https://hype.idntimes.com
Meme karya netizen saat ini kerap sekali bermunculan di timeline sosial
media yang mengindikasikan bahwa hal tersebut adalah gambaran tingkah laku anak
zaman sekarang pada umumnya, memang apabila diperhatikan lebih dalam karena
adanya globalisasi, westernisasi dan moderenisasi setiap proses sosial yang ada
di masyarakat dapat berubah baik dari tingkahlaku anak sampai pada tahap dewasa
akan selalu mengalami perubahan, dan perubahan yang terjadi dapat berupa
perubahan progresif, yaitu perubahan yang mengalami kemajuan maupun perubahan
regresif yaitu perubahan yang mengaami kemunduran.
Generasi millennials dengan pengalaman semasa hidupnya akan selalu
membandingkan pada era saat ini sehingga apabila di lihat secara logika kedua
hal ini berbeda. Dahulu dan sekarang pasti memiliki cara hidup yang berbeda,
dimana teknologi tidak sepesat dan secanggih sekarang, sehingga berbedaan sikap
dan pola interaksi bersosial di kehidupan bermasyarakat itulah yang menjadi
dasar perbedaan yang diyakini sebagai penguat agrumentasi generasi Y terhadap
generasi Z.
Sosial media di indonesia saat ini juga dihebohkan oleh akun palsu dan meme
yang ngatasnamakan Tokoh Pendidikan Anak Seto Mulyadi atau
akrab disapa dengan Kak Seto. Karena latar belakang dari profesi dan dunia yang
di kecimpungi oleh kak seto ini sangat dekat atau terkait dengan anak maka
banyak dari masyarakat di internet atau netizen
menggunakan sosok kak seto sebagai bahan sindiran kepada kitz zaman now ini.
Apabila diperhatikan lebih jauh dari sudut pandang yang lebih terbuka, sebenarnya kidz zaman now ini walaupun sering di lihat sebagai hal yang negatif tetapi sebenarnya juga menimbulkan dampak positif karena pada dasarnya suatu hal ataupun fenomena yang terjadi di masyarakat memiliki efek yang negatif maupun positif. Salah satu hal positif yang bisa di ambil contoh pada fenomena kidz zaman now ini seperti Naufal Raziq (Anak Aceh yang menemukan energi listrik dari pohon kedondong), Joey Alexander (pianis jazz yang debut di ajang internasional Grammy Awards), Yuma Soerianto (Programmer termuda dikonferensi WWDC [World Wide Developers Conference]).
Jadi, Istilah kidz zaman
now digunakan untuk mengomentari atau lebih tepatnya mencibir perilaku anak jaman sekarang (plural:
anak-anak jaman sekarang) yang dianggap aneh, nyeleneh, kurang pantas ataupun
absurd. Sedangkan generasi millennials yang diungkapkan oleh William
Strauss dan Neil Howe dalam teori generasi Strauss-Howe adalah generasi yang
dibesarkan dalam kondisi baik walaupun mereka hadir pada masa perang budaya. Pada dasarnya anak anak yang sekarang sedang dijuluki kidz zaman
now ini terbentuk dari prespektif masyarakat dan netizen yang beranggapan
bahwa mereka saling berlomba untuk memperlihatkan eksistensi /
mengaktualisasikan dirinya pada orang lain sehingga orang lain akan mengakui
dan tau bahwa mereka ada. Memang pada dasarnya anak anak itu memiliki sifat
yang ingin diperhatikan maupun menjadi pusat perhatian sehingga anak anak ini
akan melakukan suatu tindakan sehingga mereka berani mengekspresikannya ke
dalam bentuk apapun sehinga timbul kesan absrud dan nyeleneh dan sebagai
generasi yang lebih senior dari generasi Z seharunya lebih dapat berfikir
secara kritis mengenai fenomena yang terjadi di masyarakat seperti fenomana
kidz zaman now ini. Pastinya ada atau timbul dampak positif dan negatif dari
fenomena ini.
Daftar
Pustaka
Moerdijati, Sri. 2016. Pengantar Ilmu Komunikasi edisi revisi.
Surabaya: PT REVKA PETRA MEDIA
Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar.
Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA




Comments
Post a Comment